Kamis, 02 Agustus 2012

SURAT KEPADA SAHABAT

From: Mohammad Fauzil Adhim's Facebook status

Pada saatnya kita akan tua. Anak-anak yang dulu kerap memanggil kita dan tak segera kita tanggapi, boleh jadi kini telah bertebaran di berbagai penjuru bumi. Kita memanggil-manggil mereka, sebagaimana dulu mereka memanggil kita. Bersyukurlah jika mereka masih amat berhasrat memenuhi panggilan kita, meski tak selalu mampu memenuhi panggilan itu karena jauhnya jarak dan terbatasnya kesempatan. Semoga anak-anak kita bukanlah termasuk mereka yang telah kehilangan rasa rindu kepada orangtua. Mereka tak bisa merasa dekat, bahkan saat berdekatan dengan kita. Mereka tak mampu merasakan kehangatan, meski kita sedang memberikan senyum terbaik kita untuknya. Persoalannya, apakah yang telah kita semai di hati mereka? Benih-benih rasa rindu yang secara alamiah tumbuh dalam diri mereka, adakah kita pupuk dengan memberi perhatian, ketulusan dan kehangatan kita?

Pada saatnya kita akan tua, lemah dan renta. Kemeja yang dulu rasanya tak lengkap tanpa jas dan dasi –meski kita tinggal di negeri beriklim tropis—kini tak lagi menarik. Perempuan yang dulu membiarkan dadanya terbuka dan berkata jilbab hanya sesuai untuk negeri di Timur Tengah, kini bahkan tak bisa lepas dari syal dan kain yang melilit badan. Mereka tak lagi peduli dengan penampilan karena masalah kesehatan jauh lebih menyibukkan. Di saat itu, apakah yang dapat kita harapkan dari masa muda kita untuk pulang ke kampung akhirat?

Pada saatnya kita akan memasuki penghujung usia kita, tua dan renta. Ataukah kita tak sempat merasai masa yang disebut lansia? Betapa banyak yang berpanjang angan-angan tentang masa 50 tahun yang akan datang, tapi ia sendiri tak sempat merasai umur panjang. Betapa banyak yang tak peduli darimana ia dapatkan hartanya; adakah dari jalan yang halal ataukah ada syubhat dan bahkan haram yang nyata di dalamnya. Mereka menumpuk harta dengan menjual agama (bila perlu), tapi yang menikmati adalah ahli warisnya. Sementara ia harus menghadap-Nya dengan setumpuk dosa yang tak tertanggungkan. Adakah itu kita?

Pada saatnya kita beranjak tua. Putih rambut kita, putih pula mata kita sehingga tak mampu melihat sekeliling dengan jelas. Kita merasakan kesedihan yang teramat sangat. Padahal telah lama kita membiarkan diri rabun terhadap kebenaran. Kita abaikan diri kita sendiri dari mengingat-Nya bersebab dunia yang amat memenuhi rongga dada kita. Bersujud kita berlama-lama, tapi bukan untuk mengagungkan-Nya, melainkan karena amat merindui dunia. Dan di saat renta, ingin sekali kita berlama-lama sujud untuk memohon agar badan bugar kembali. Ataukah kita bahkan tak mengingat-Nya sama sekali? Na’udzubillahi min dzaalik. Maka beruntunglah mereka yang mengingat-Nya di usia senja; mengingat yang penuh sesal. Semoga Allah Ta’ala berkenan memberi karunia berubah akhir hayat yang baik (husnul khatimah). Dan celakalah orang yang sampai penghujung usianya, tidaklah ia beribah kecuali hanya untuk mengharap dunia.

Pada saatnya kita akan mengatupkan mata untuk selama-lamanya, lalu hidup di alam yang berbeda. Adakah ketika itu kita menginsyafi salah dan dosa kita? Adakah kita sempat bertaubat kepada-Nya? Ataukah kita yang dimaksud dalam QS. At-Takaatsur, yakni orang yang tidak berhenti merindui dunia dan mencurahkan passionnya secara total untuk kesenangan dunia. Tak ada yang sanggup menghentikannya kecuali kematian. Mereka inilah yang tempat kembalinya adalah neraka jahim. Na’udzubillahi min dzaalik.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainulyaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” QS. At-Takaatsur, 102: 1-8

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar